Suasana masjid di Madinah sepulang shalat jamaah terasa tenang. Nabi Muhammad SAW duduk bersila dikelilingi para sahabat, membahas urusan umat. Ketenangan itu tiba-tiba terbelah oleh langkah berat seorang kakek renta. Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru menahan dingin. Tangannya yang menggenggam tongkat terlihat gemetar, bukan hanya karena usia, tapi juga kelaparan yang menyayat.
“Wahai Rasulullah…,” suaranya parau. “Aku sangat lapar. Tolonglah aku. Aku tak punya pakaian selain yang melekat di badan ini.
Nabi, yang hatinya selalu luluh melihat penderitaan, memandangnya dengan iba yang dalam. Namun, saat itu, di sakunya tak tersisa apa-apa. Segala yang beliau miliki telah lebih dulu diberikan kepada yang membutuhkan. Sebuah gambaran nyata dari kehidupan Rasul yang, meski sebagai pemimpin, hidup dalam kesederhanaan yang seringkali lebih miskin daripada rakyatnya.
“Maaf, pak tua,” ujar Rasulullah dengan lembut, penuh penyesalan. “Tak ada yang dapat kuberikan saat ini. Tapi jangan putus asa. Datanglah kepada anakku, Fatimah. Mungkin ada sesuatu yang dapat ia sedekahkan.”
Di depan rumah sederhana Fatimah az-Zahra, putri kesayangan Rasul, sang kakek mengulangi permohonannya. Fatimah, yang mendengar cerita ayahnya tentang kemiskinan yang pernah dialami keluarga Nabi hingga “tidak menemukan sebutir kurma pun untuk mengganjal perut” sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari (No. 6458), langsung kebingungan. Hidupnya dan Ali bin Abi Thalib digambarkan oleh sejarawan seperti Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam Sirah Nabawiyah-nya sebagai kehidupan zuhud, seringkali mereka sendiri hanya makan roti kasar dan kurma.
Matanya menatap demi ruangan. Hanya ada selembar kulit kambing yang jadi alas tidur kedua putranya, Hasan dan Husain. Itulah yang ia berikan.
“Buah apa ini, Putri Rasulullah?” tanya kakek itu bingung. “Kulit ini takkan mengenyangkan perutku atau menghangatkan badanku.”
Fatimah terdiam. Lalu, ia teringat. Ada satu benda berharga yang tersimpan, sebuah kalung emas pemberian Fatimah binti Abdul Muthalib, bibinya. Sebagai putri pemimpin umat, ia merasa tidak pantas memakainya. Tanpa pikir panjang, kalung itu ia serahkan.
Wajah kakek itu berbinar melihat kilau emas di tangannya. Ia kembali ke masjid menemui Nabi. Melihat kalung itu, Rasulullah berdoa singkat, “Semoga Allah membalas keikhlasannya.”
Dari barisan sahabat, majulah seorang lelaki yang dikenal dermawan, Abdurrahman bin Auf, pedagang kaya raya yang masuk Islam sejak dini dan dikenal karena kepiawaiannya dalam bisnis. Sejarawan Ibnu Sa’ad dalam Kitab ath-Thabaqat al-Kubra mencatat kekayaannya yang melimpah, yang selalu digunakan untuk jihad di jalan Allah.
“Maukah kau jual kalung itu?” tawarnya.
Dengan izin Rasul, transaksi pun terjadi. Sang kakek tak meminta harga tinggi. Hanya beberapa potong roti, daging, pakaian, dan ongkos pulang. Namun, Abdurrahman bin Auf memberinya lebih, dua puluh dinar, seratus dirham, pakaian, dan seekor unta.
“Terima kasih, wahai kekasih Allah! Kini aku merasa jadi orang kaya!” seru kakek itu gembira.
Nabi menimpali dengan pelajaran abadi, “Berterima kasihlah kepada Allah dengan cara berterima kasih kepada manusia yang berjasa. Balaslah kebaikan Fatimah.”
Sang kakek pun mengangkat tangan, berdoa dengan khusyuk, “Ya Allah, aku tak mampu membalas kebaikan Fatimah. Maka, berilah dia balasan dari-Mu, sesuatu yang belum pernah dilihat mata, didengar telinga, atau terbetik dalam hati manusia, Surga-Mu, Jannatun Na’im.”
“Amin,” sambut Rasulullah dengan senyum lebar.
Beberapa hari kemudian, plot twist terjadi. Saham, budak Abdurrahman bin Auf, datang menghadap Nabi dengan membawa kalung yang sama.
“Tuanku menyuruhku menyerahkan kalung ini untuk Anda,” kata Saham. “Dan diriku juga.”
Rasulullah tersenyum, menerima, lalu berpesan, “Lanjutkan perjalananmu ke rumah Fatimah. Serahkan kalung ini dan dirimu untuknya.”
Di rumah Fatimah, setelah mendengar cerita Saham, sang putri Nabi mengambil keputusan yang memerdekakan. “Engkau sekarang hakku, maka kumerdekakan engkau,” ujarnya.
Saham pun tertawa lega, membuat Fatimah heran.
“Aku tertawa melihat siklus sedekah yang indah ini,” jelas Saham. “Kalung ini kembali ke tempat asalnya, tetapi karena keikhlasan, ia telah mengenyangkan orang lapar, membuat miskin merasa kaya, menjamin surga untukmu, dan kini… memerdekakanku.”
Pelajaran yang Bergema
Kisah ini, yang diriwayatkan dalam berbagai kitab seperti Kanz al-‘Ummal dan Bihar al-Anwar, lebih dari sekadar dongeng. Ia adalah pelajaran hidup tentang sirkularitas kebaikan (circular charity). Sedekah yang ikhlas, seperti ditulis oleh cendekiawan kontemporer seperti Dr. Haifa’ R. dalam The Economics of Charity in Early Islam, tidak pernah hilang. Ia berputar, memperkaya secara materi dan spiritual, menyentuh kehidupan yang tak terduga, dan akhirnya kembali kepada pemberinya dalam bentuk yang lebih baik.
Fatimah memberi karena Allah, dan Allah mengembalikan kalungnya serta memberikan hadiah yang tak ternilai, kebahagiaan orang lain, doa yang mustajab, dan kemerdekaan seorang manusia. Inilah “investasi” akhirat yang sejati, di mana keuntungannya melampaui segala perhitungan duniawi.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Sumber referensi tambahan:
- Shahih Bukhari, Kitab ar-Riqaq, hadis tentang kemiskinan Rasulullah.
- Ash-Shallabi, Dr. Ali Muhammad. Sirah Nabawiyah.
- Ibnu Sa’ad. Al-Thabaqat al-Kubra.
- Al-Muttaqi al-Hindi. Kanz al-‘Ummal.
- Hukum Pidana Kumpul Kebo 2026 Mulai BerlakuJAKARTA, Porosdaerah – Pasangan yang menjalani hidup bersama tanpa ikatan perkawinan resmi, atau yang kerap disebut “kumpul kebo” (cohabitation), harus bersiap menghadapi ancaman sanksi hukum pidana mulai 2 Januari… Baca Selengkapnya: Hukum Pidana Kumpul Kebo 2026 Mulai Berlaku
- IWS dan LVRI Perkuat Jejaring, Bahas Peran Veteran dalam Pendidikan Karakter BangsaPorosmedia.com | Jakarta, 1 Januari 2026 – Dalam sebuah pertemuan strategis, Dewan Pengurus Pusat (DPP) Ikatan Warga Satya Indonesia (IWS) melakukan kunjungan silaturahmi dan koordinasi dengan Legiun… Baca Selengkapnya: IWS dan LVRI Perkuat Jejaring, Bahas Peran Veteran dalam Pendidikan Karakter Bangsa
- Patroli Intensif Polres Tasikmalaya Kota Siagakan Malam Tahun Baru, Kawal Kamtibmas dan Tekan PekatTasikmalaya, 1 Januari 2026 – Menjelang perayaan pergantian tahun, jajaran Polres Tasikmalaya Kota menggenjot intensitas patroli di berbagai titik rawan. Langkah ini diambil sebagai upaya antisipatif untuk… Baca Selengkapnya: Patroli Intensif Polres Tasikmalaya Kota Siagakan Malam Tahun Baru, Kawal Kamtibmas dan Tekan Pekat
- Ketika Sedekah Kembali Berbuah Tak Terduga
Suasana masjid di Madinah sepulang shalat jamaah terasa tenang. Nabi Muhammad SAW duduk bersila dikelilingi para sahabat, membahas urusan umat. Ketenangan itu tiba-tiba terbelah oleh langkah… Baca Selengkapnya: Ketika Sedekah Kembali Berbuah Tak Terduga - Dari Badui yang “Kasar” hingga Jadi Pembawa CahayaTasikmalaya | MADINAH – Suasana tenang di Masjid Nabawi suatu siang tiba-tiba retak oleh langkah mantap seorang lelaki. Dengan jubah berdebu dan aura keras khas pedalaman,… Baca Selengkapnya: Dari Badui yang “Kasar” hingga Jadi Pembawa Cahaya
👍🙏