Porosmedia.com, Bandung – Dalam perjalanan hidup manusia, dinamika suka dan duka seringkali diibaratkan sebagai angka 1 hingga 9. Namun, bagi Sopiadi, S.H., Ketua Umum Pergerakan Rakyat Bersatu (Prabu), puncak dari segala lika-liku tersebut adalah kembali ke “Titik Nol”—sebuah fase kontemplasi untuk menata diri dan memperkuat fondasi keluarga.
Sopiadi memandang bahwa kehidupan adalah pilihan. Manusia memiliki ruang untuk menciptakan kebaikan atau keburukan, namun ada jalan tengah yang lebih bijak: tidak terjebak dalam dikotomi hitam-putih yang kaku. Setelah melewati berbagai fase karier yang matang, Sopiadi kini lebih fokus pada penataan internal, baik diri pribadi maupun keluarga.
”Keluarga adalah prioritas utama. Perjalanan orang tua pada akhirnya adalah tentang mempersiapkan warisan nilai dan karakter bagi anak-anak sebagai penerus masa depan,” ujar Sopiadi. Baginya, keberhasilan karier harus dibarengi dengan kerendahan hati dan komitmen untuk menjadi teladan bagi generasi penerus.
Sebagai seorang pengacara yang telah menangani berbagai kasus dan menghadapi beragam karakter manusia, Sopiadi memetik pelajaran berharga tentang integritas. Ia berpesan kepada sahabat dan mitranya untuk menghindari konflik yang tidak perlu, terutama mencari keuntungan sesaat yang justru merugikan di masa depan.
Melalui wadah Prabu, ia ingin menularkan semangat komitmen dan konsistensi. “Hidup bukan tentang melihat keberuntungan orang lain, melainkan tentang keteguhan menjalani proses. Fokus pada komitmen diri adalah kunci,” tambahnya.
”Anggaplah jurnalis sebagai pembawa misi kenabian yang menyampaikan suara kebenaran. Karena itu, Pemerintah tidak boleh memandang sebelah mata terhadap masyarakat murni yang memperjuangkan kebenaran melalui saluran informasi yang jujur,” tegasnya.
Menyoroti kepemimpinan di Jawa Barat, Sopiadi menekankan pentingnya sosok pemimpin yang benar-benar merepresentasikan karakter Sunda. Ia mengambil filosofi kepemimpinan masyarakat adat seperti di Baduy, di mana seorang pemimpin adalah teladan utama dalam kepatuhan terhadap aturan yang ada.
”Pemimpin saat ini seharusnya bukan sekadar pembuat aturan yang berpotensi berbenturan dengan aspirasi murni masyarakat. Sebaliknya, pemimpin harus menjadi sosok yang paling patuh pada hukum dan aturan yang berlaku. Itulah sejatinya karakter pemimpin yang dibutuhkan Jawa Barat ke depan,” pungkasnya.